Backpacker Cantik : Jamu dan Kami.

Setelah beberapa kali jalan bersama Ms. Intan, ternyata akhirnya terbongkarlah sebuah rahasia bahwa ternyata kami berdua itu.. sama-sama suka minum jamu! hmm.. anti klimaks banget ya rahasianya, karena mungkin bagi sebagian orang kegemaran minum jamu itu biasa saja, tidak spesial. namun, bagi saya sama Ms. Intan yang sudah terlanjur mendeklarasikan blog ini sebagai backpacker cantik, minum jamu menjadi penting demi untuk menjaga keabsahan dari profil pemilik blog ini. hehe.

Beruntungnya, setiap kami jalan berdua, selalu bertemu penjual jamu! Ketika ketemu penjual jamu gendong itu seperti ketemu idola kali ya, langsung histeris seneng, dan setelah minum jamu mood langsung jadi ceria. Hehe. Dan yang jelas mah, setelah minum jamu saya merasa badan saya jadi singset berkali-kali lipat dari pada kenyataannya. 😀

.. Jamu Gendong langganan milta ..

.. Jamu Gendong langganan milta ..

Pernah sewaktu di Solo, kami baru saja selesai menaiki lebih dari 1500 anak tangga dari dan menuju Air Terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu. Sorenya, setelah lelah berjalan-jalan juga di sekitar pasar batik Kampung Gendang Selirang Solo, kami tidak sengaja menemukan depot penjual jamu godog di dekat Stasiun Solo Balapan. Namanya Depot Jamu “Yulia” di sekitaran Pasar Legi Solo. Entah sugesti atau bagaimana, rasa pegal perjalanan anak tangga tadi siang hilang sama sekali setelah minum jamu.

.. Depo Jamu Yulia, Pasar Legi Solo ..

.. Depot Jamu Yulia, Pasar Legi Solo ..

Jamu favorit Ms. Intan itu beras kencur. Ini jamu anti capek, jadi cocok banget buat Ms. Intan yang kerjaannya ke Jakarta terus buat sales dari company kita. Cipularang woman! Sempet waktu itu ngga tega, pas udah anak tangga ke 1000an, Ms. Intan kecapean dan minta berhenti. Sedangkan saya sok kuat banget, terus aja naik tangga. hehe.

Jamu favorit saya adalah kunyit asem! Cocok banget kan sama kulit backpacker macam saya yang kuning langsat dan singset ini. Sebetulnya karena saya memang sering bermasalah di pencernaan. Dimaklum lah ya, kalo rajin makan (inget ya..rajin makan, bukan banyak makan heheh) macam saya, masalahnya pasti ga jauh-jauh lah ya dari urusan pencernaan, hehe. Nah, kunyit asem ini cepat sekali meredakan sakit perut. Rasa jamu favorit anda apa? Let us know!

Pengalaman kedua, pada episode keliling Taman Tematik di Bandung bulan lalu. Kami menghabiskan waktu jam 9-18.30 mengelilingi 17 taman tematik di Kota Bandung, dan hanya 5 menit naik angkot, sisanya jalan kaki. Kenapa bisa sekuat demikian? Ini pastilah berkah dari jamu yang kami beli pagi harinya seketika kami sampai di tujuan pertama kami kala itu, alun-alun. Kawasan alun-alun itu kan zona merah ya, yang para pedagang ga boleh berjualan di sekitar itu, dan dijaga satpol pp. Nah, tiba-tiba ada salah satu satpol pp itu memberhentikan penjual jamu gendong yang sedang melintas dengan gemulainya di kawasan zona merah itu, dan kami langsung berfikir; wah kena denda pasti mba jamu itu. Ternyata eh ternyata, karena satpol pp itu malah mau beli jamu. Langsung dong kami latah juga, menghampiri penjual jamu dan minta izin ke satpol pp untuk beli jamu juga. Di luar dugaan, malah diizinkan hehe. Akhirnya kami tahu, bahwa karena itu belum jam 10, jadi beberapa penjual masih diizinkan melintas di zona merah. Jadi kami terbebas dari denda ya Pak Walkot.. 🙂

.. Jajan Jamu di Alun-Alun Bandung ..

.. Jajan Jamu di Alun-Alun Bandung ..

Nah, gak heran kan kenapa bisa sekuat itu berjalan kaki dari jam 9-18.30 seharian. Berkah dari jamu.

Dari situlah kami mengikrarkan jamu sebagai minuman wajib buat backpacker cantik demi menjaga stamina dan agar tetap cantik menawan meskipun sedang berwisata murah. hehe. Yap, karena minum produk herbalife olahan pabrik sudah terlalu mainstream (alias mahal), kita memilih tetap setia kepada jamu.

Lagipula readers, jamu itu kan warisan budaya Indonesia yang kita semua bertanggung jawab melestarikannya, terlebih jamu gendong. Saya minggu lalu menonton acara Tupperware She Can di Trans7 yang meliput kegiatan pencetus komunitas jamu gendong di Jakarta. Cerita tentang komunitas penjual jamu gendong, komunitas para petani tanaman bahan baku jamu, dan bagaimana akhirnya dari jamu gendong itu pula salah seorang pemudi di Jakarta bisa membiayai kuliahnya dan menjadi Sekretaris. Keren ya! Saya cari videonya tidak ketemu, tapi bisa baca sekilas artikel terkaitnya di sini dan di sini.

Ketika menonton acara itu, saya semakin merasa bangga atas warisan leluhur kita berupa jamu. Dan.. siapa tau suatu waktu, saya malah terjun jadi penjual jamu gendong kan..hehe. I love you para penjual jamu gendong, you are all amazing just the way you are.

Saya paling kesel tuh kalo ada orang-orang (laki-laki dan perempuan) yang menghina dan melecehkan penjual jamu gendong. Belum pernah disodorin belati pasti sama Mbok jamunya..

Jamu kita hari ini..

IMG-20150311-WA0009

life goal : ketemu dan meminum sebanyak mungkin jamu dari para penjual jamu gendong.

– m –

Advertisements

2 thoughts on “Backpacker Cantik : Jamu dan Kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s