Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Melewati Kediri Pagi

Hands up yang sudah pernah backpacking ke Kediri dan Blitar!

Jika berpatokan dari cerita para penulis perjalanan, Kediri-Blitar sepertinya bukan kota yang populer dikunjungi. Hanya dapat dihitung dengan jari berapa penulis blog yang pernah mengunjungi Kediri, sehingga informasi mengenai perjalanan ke Kediri-Blitar. Tapi, sebetulnya itu malah menarik. Kita tidak pernah tahu, jika tidak melangkah. Ehmmm!

Oh ya, udah tahu kaan.. kalo akhir-akhir ini saya punya partner backpacking. Rekan kerja, namanya Mrs. Intan. Saya mengajaknya bergabung menjadi kontributor untuk travelling blog saya yaitu backpackercantik.wordpress.com. Ya saya faham lah, backpackpacker itu disematkan kepada mereka yang menekan budget setipis mungkin, menginap tanpa hotel, dsb. Saya sendiri, menggunakan istilah backpacking, karena jalan-jalannya ya pakai tas di punggung..

Hanya saja… perjalanan Kediri-Blitar kali ini tidak ditemani Mrs. Intan. Apa pasal? Beliau kerjanya emang nyari uang terus (buat kelangsungan hidup kantor kami). Jadi, sampai di seminggu sebelum keberangkatan, Mrs. Intan masih belum memastikan mau ikut serta atau tidak. Fixnya, di hari Jumat-Sabtu waktu keberangkatan, Ms. Intan fix tidak ikut karena ada pekerjaan di Surabaya.  Untungnya, untuk jaga-jaga, saya beli tiket kereta duluan.

Saya berangkat memanfaatkan weekend, 10 Oktober – 11 Oktober 2014.

Dari seminggu sebelum keberangkatan saya udah packing. Saking excitednya mau jalan-jalan, packingnya jauh-jauh hari.. (ketika kembali ke rumah, unpacknya juga jauh-jauh hari..  hehe.) Jadi ketika Jumat pagi itu, tinggal rechek stuff yang akan dibawa.

.. pack up! ..

Setelah selesai mandi di kantor, shalat magrib-isha, makan malem dulu di kantor; nasi goreng buatan Chef Doel. Lalu bertolak menuju Stasiun Kiara Condong, dianter oleh Santo Primus. Karena kebaikan hati beliau itulah, saya jadi tidak telat checkin di pemeriksaan tiket. Kalo tidak diantar (baca : naik angkot) sudah pasti telat, karena antrian checkin kereta ekonomi yang aduhai. Alhamdulillah, dan terima kasih Mas Primus.

Note: Jangan membiasakan in a rush ya kalo berkaitan dengan tiket kereta ekonomi, antriannya panjang!

Saya naik kereta Api Ekonomi Kahuripan jurusan Kiaracondong – Kediri, tiket Rp 50.000. Tempat duduk di sekitar saya diisi oleh segerombolan ibu-ibu yang mau plesir ke Yogyakarta. Dari Yogyakarta sampai Madiun kursi di sebelah dan di depan saya tanpa penumpang. Di Madiun, kemudian ada seorang Ibu dan anaknya yang menuju Kediri. Oh ya, Kediri adalah stasiun terakhir dari rute kereta Kahuripan. Di Stasiun Madiun, saya celingukan, mencari penjual pecel yang mungkin saja diizinkan masuk kereta, namun tidak beruntung. Sepertinya Madiun akan menjadi tujuan berikutnya perjalanan saya, lets see :).

Rute Kereta Api Ekonomi AC Kahuripan

Kurang lebih 13 jam di dalam kereta, saudaraku! Pegel juga memang, tapi terhibur karena sedari shubuh saya sudah terjaga, menikmati pemandangan pagi Jawa Tengah menuju Jawa Timur. Bukan maksud sok urban, tapi sungguh pemandangan sawah sepanjang Jawa Tengah menuju Jawa Timur yang dilalui kereta ini.. breathtaking. Sepanjang perjalanan kereta api Kahuripan itu pula saya menghabiskan sebuah buku, yaitu Twitter Power @ridwankamil,  buku yang penerbitannya disponsori pula oleh company tempat saya bekerja. Selesai membaca buku itu, saya berniat menyimpannya di kursi Kereta Api. Namun pada akhirnya, saya simpan di sekitar komplek Pemakaman Bung Karno.

.. touchdown Kediri ..

.. touchdown Kediri ..

Tepuk tangan dan penghargaan untuk layanan Kereta Api Kahuripan, yang sampai di Stasiun Kediri tepat waktu. Turun dari kereta segera menuju kamar mandi, bersih-bersih dan menunaikan shalat Shubuh. Beberapa petugas stasiun ramah bertanya mengenai tujuan saya di Kediri. Hmm.. pertanda baik, bahwa Kediri akan memperlakukan saya dengan baik, semoga saya pun dapat memperlakukan Kediri dengan baik.

Aku paling suka tiba di sebuah kota pada pagi hari. Pagi selalu menahan perasaan, memperlambat segala sesuatu, murah hati dengan fakta. Ia menerangi dengan perlahan, lapis demi lapis, hingga kota hadir bukan sebagai sesuatu yang jadi, melainkan sesuatu yang belum final, yang masih bisa dibentuk, penuh kemungkinan.

– Laksmi Pamuntjak (Amba : Sebuah Novel)

Selesai shalat dan dandan (hehe!), saya menuju antrian tiket, memesan tiket kereta api ekonomi lokal untuk siang nanti menuju Blitar. Nama keretanya Rapih Dhoho, harga tiketnya 5.500, Stasiun terakhirnya adalah Blitar. saya pilih yang berangkat pukul 12.19, sehingga saya memiliki 3 jam untuk berjalan-jalan sebentar di Kediri sebelum menuju Blitar. Jadwal dan rute Kereta Rapih Dhoho ada di web railway.

Setelah beres beli tiket, saya berjalan keluar Stasiun, dan mendapati diri saya di berada di jalan Dhoho. Oh ini, Jalan paling terkenal di Kediri, yang seringkali disebut sebagai Malioboronya Kediri, yang merupakan landmark utama dan jantung kota Kediri menurut warga sekitar. Menurut warga yang saya temui selama di sana, Dhoho (pada awalnya bernama Daha) adalah nama yang disematkan untuk kerajaan di wilayah Khadiri (kemudian lebih terkenal dengan sebutan Kerajaan Kediri) pada tahun 1042 – 1022, sekilas sejarahnya bisa dibaca di wikipedia : kerajaan Khadiri.

…. Salam atas para leluhur teladan Kediri….

Sejauh mata memandang, sebetulnya Jl. Dhoho ini dipenuhi oleh toko-toko macam di Jl. Otista Bandung dan sekitar Pasar Baru Bandung. Menjelang sore hari hingga Shubuh, sepanjang Jalan Dhoho akan dipenuhi oleh penjual makanan khas Kediri, yaitu Pecel Tumpang. Jadi, sebetulnya cenderung aman berjalan di malam hari di sekitar Jl. Dhoho.

Saya berjalan menyusuri Jl. Dhoho (belok ke arah kiri setelah keluar Stasiun Kediri), mencari makanan untuk sarapan, dan pilihan saya jatuh pada Warung Soto Podjok. Harga 7.000 per ½ porsi, cukup untuk menu sarapan. Ini warung Soto terkenal sekali, karena enak pastinya! Keluar dari Soto Podjok malah bertemu dengan penjual es (Ice Drop) khas Blitar yang berjualan di Jl. Dhoho. Harganya 3.500, penjualnya maksa meminta berfoto bersama. Hi from Kediri!

.. ice drop khas Blitar di Jl. Dhoho ..

.. ice drop khas Blitar di Jl. Dhoho ..

Selesai makan es, saya berencana menuju Gereja Merah. Ikonik juga bagi Kota Kediri. Belum sampai Gereja Merah, saya melihat sebuah Gang menuju Makam Syekh Awliya Wasil (alias Syekh Ali Syamsuzein yang bergelar Sulaiman Al Wasil), ulama besar asal Turki yang turut serta menyebarkan  Islam di Kediri dan diangkat sebagai guru oleh Prabu Joyoboyo (Raja Kadiri 1135-1157). Saya ikuti jalan di dalam gang itu, dan 50 meter kemudian sampai di area pemakaman. Beberapa peziarah nampak sedang membacakan doa-doa, dan saya menggabungkan diri dengan mereka. Syahdu sekali area pemakaman ini, ciri khas pemakaman para wali. Pemakaman ini juga ditempati oleh tidak hanya makam warga Muslim, tetapi juga warga non Muslim. What a quiet place. Dan di dekat pintu keluar disediakan kendi air untuk diminum.

.. ziarah makam Mbah Wasil ..

.. ziarah makam Mbah Wasil ..

Perjalanan Kediri ini nampaknya akan menjadi perjalanan lintas kepercayaan. Bagaimana batas-batas perbedaan keyakinan itu hilang.

Hasil dari bertanya, jarak dari Stasiun menuju Gereja Merah adalah sekitar 1,5km. Rute berjalan kaki dari Stasiun Kediri adalah : Keluar dari Stasiun Kediri akan bertemu Jl. Dhoho –> lalu ambil arah kanan sampai bertemu perempatan Soto Podjok –> kemudian menyeberang ke arah Soto Podjok (Jl. Raden Patah)–> lurus terus sampaoi Jl. Monginsidi –> ambil kanan di perempatan dan menelusuri Jl.  Yos SUdarso/Jl.Trunojoyo sampai bertemu pertigaan Jl. Brawijaya –> ambil kiri untuk menyebrang Jembatan Kali Brantas –> ambil kanan di ujung Jembatan –> ikuti Jl. Syudanco Supriyadi sampai bertemu dengan Monumen Syu. Nah di depan Monumen Syudanco itulah terletak Gereja Merah. Hurray! 🙂

Sepanjang Jl. Trunojoyo adalah toko-toko yang menjual oleh-oleh Khas Kediri (aneka olahan tahu dan sebagainya). Oh ya, sekilas memandang, daerah Jl. Monginsidi sampai Jl. Trunojoyo adalah daerah Pecinannya Kediri. Pemilik rumah dan toko mayoritasnya adalah etnis Tionghoa. Berbeda dengan yang saya lihat di kawasan Tionghoa di Bandung, di Kediri restoran dengan bahan utama babi dibuka dengan aman, tanpa ada penolakan dari ormas ekstrim Islam, which is good. Kediri adalah kota yang menghormati perbedaan, menurut pemilik Warung Soto Podjok tadi.

.. mlaku nang Kediri ..

.. mlaku nang Kediri ..

Dan kemudian saya menyebrangi jembatan di atas sungai yang terkenal itu. Nama sungai yang pertama kali saya dengar di pelajaran geografi semasa SD dulu, Kali Brantas. Agak merasa awkward juga karena menjadi pusat perhatian disebabkan hanya saya sendirian pejalan kaki yang berjalan di atas jembatan, dan melawan arus para pengendara. 5 menit berjalan setelah jembatan, sampailah saya di Monumen Syu sekaligus di depan Gereja Merah. Dan langsung berteriak girang sendirian, hehe.

Monumen Syu adalah relief dan patung yang menggambarkan perjuangan para para Syudanco dari barisan Pembela Tanah Air (PETA) di masa Indonesia dijajah oleh Jepang (baca lagi sejarah lengkapnya yaaa).

Monumen Syu Kediri

Monumen Syu Kediri

Setelah mengambil gambar, saya menyeberang menuju Gereja Merah. Perasaan haru dan kagum menjadi satu pada syahdu. Perasaan yang hanya dapat dirasakan oleh para terasing atau para musafir yang menemukan tempat ibadah untuk menenangkan diri sejenak. Perlahan saya memasuki Gereja Merah, what a quiet place. Saya beberapa kali mengucapkan salam, namun tak ada jawaban. Akhirnya saya duduk di kursi-kursi para jemaah. Merehatkan raga dan fikiran sejenak. Saya fikir, jemaah dari masing-masing kepercayaan ada baiknya saling mengunjungi tempat ibadah satu sama lain. Agar dapat merasakan betapa indahnya berada dalam sebuah naungan kepercayaan yang mampu menghargai perbedaan kepercayaan lain dan menjadikannya keindahan dari kepercayaan itu sendiri. Allah created us different, so He may test us who is the best in amaal (Al-Mulk-1, dan Almaidah-48).

Beberapa menit saya menghabiskan waktu di dalam sana, melihat dan merasakan indahnya. Saya selalu yakin, tempat-tempat peribadatan itu menyimpan berkahnya tersendiri. Bagaimana tidak, di sanalah tempat berlalunya lintasan-lintasan doa menuju-NYA, tempat niat-niat baik ditekadkan, tempat janji suci dipatrikan. Saya berencana melihat-lihat ke bagian atas Gereja, namun saya urungkan.. karena tak ada seorang pun disana.

.. Gereja Merah Kediri ..

.. Gereja Merah Kediri ..

..  di dalam Gereja Merah Kediri ..

.. di dalam Gereja Merah Kediri ..

Menurut hasil pencarian, nama asli bangunan ini adalah “Kerkeeraad Der Protestanche Te Kediri”, yang dibangun oleh Pendeta JA Broers pada 1904. Gereja ini menyimpan kitab injil berbahasa Belanda yang dicetak pada tahun 1867. Menurut cerita blogger ini, yang menulis tentang perjalanannya ke Gereja Merah dengan sangat indah (zadinda), Gereja Merah hanya ada 2 di Indonesia, yaitu di Kediri dan di Probolinggo. Probolinggo, next destination?

Setelah beberapa menit menikmati suasana kekhidmatan Gereja Merah (plus menelusuri beberapa keindahan arsitektur Gereja Merah), saya menuju keluar dan mengambil foto terakhir Gereja Merah. So beautiful, may i be blessed to visit you again someday.

Karena waktu masih tersisa, saya berniat berjalan kaki untuk kembali ke Stasiun Kediri. Sebetulnya juga karena sedikit sekali jumlah angkutan umum yang ada di Kediri. 3 jam itu, saya tidak menemukan angkutan kota sama sekali. Saya kembali menyebrangi Jembatan Kali Brantas. Dan tetiba ada sebuah pengendara motor berhenti ke arah saya. Seorang Ibu. Dengan semangat bertanya apakah saya sedang menuju Stasiun. Dan Ibu yang baik hati itu, memaksa ingin mengantar saya sampai di Stasiun. Menurutnya, beliau hendak menuju ke arah Stasiun Kediri. Awalnya saya ‘keukeuh’ menolak. Bukan karena curiga beliau akan berniat jahat, namun karena tidak mau merepotkan. Namun Ibu tersebut (yang akhirnya kami berkenalan, dan bernama Ibu Yuli) terus mempersilahkan saya naik di motornya. Akhirnya saya menurut, tak sampai hati menolak terus. Di perjalanan beliu cerita tentang keluarganya (-plus- katanya sayang sekali kareng beliau tidak punya anak lelaki, kalau punya, pasti dijodohkannya kepada saya –awkward-). Kami sempat mampir dahulu ke Klinik untuk mengambil obat untuk suaminya sebelum akhirnya beliau mengantar saya sampai di depan Stasiun, kemudian kami bertukar nomor telepon.

That feeling.. when you feel you dont deserve to accept such kindness from others, masha Allah. How can a soul as beautiful as that? Padahal, melihat zaman sekarang..apalagi di kota metropolitan, jarang sekali ada orang yang stopped by melihat kita berjalan, lalu menawarkan tumpangan. Orang-orang yang seperti Ibu Yuli itu, selain menginspirasi..juga membuat kita percaya lagi akan humanity. May Allah always bless her soul.

.. monumen Syudanco ..

.. monumen Syudanco ..

sampai bertemu 5 jam ke depan, Kediri. 🙂

– m –

Advertisements

10 thoughts on “Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Melewati Kediri Pagi

  1. Dari Bandung ya Mbak? Terima kasih atas kunjungan ke zadinda, terpesona sekali ketika saya tahu ada yang ping tulisan saya berkaitan dengan Gereja Merah.

  2. Daer Miltha Muthia,
    Saya tertarik sekali dengan tulisan dan pribadi anda, bolehkah saya berkenalan dengan anda.Saya berharap suatu saat dapat ikut jalan bareng dengan anda.
    Saya Yuni, tinggal di Bandung juga.Seorang karyawan swasta.
    Kalau berkenan, kiranya membalas email saya.
    Terima kasih

    Regards,
    Yuni

    • Salam Mba Yuni.. i hope this message reaches you and your families in the best of health and faith!

      here Mba.. i’m here, sorry for being unreachable because my phone storage was full, so i stopped my bbm apl.

      but you can meet me on whatsapp 085318871407..

      i’m very honored that you find this way to contact me, thank you..

      see you soon, beautiful soul. (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s