Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Syahdu di Kediri

Perjalanan Sebelumnya bisa baca di:

Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Melewati Kediri Pagi

Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Rona-Rona Merah di Blitar

Sampai Stasiun Kediri pukul 19.00. Bagi para single ladies, sempatkan dulu menemukan petugas kereta berseragam biru tua yang bernama Anton, hehe. Mau tau kenapa? Cari saja! Hehe

Sampai di Kediri selepas magrib, dan saya berjalan menuju hotel Bhismo di depan Alun-Alun Kediri. Jarak dari Stasiun Kediri ke Hotel Bhismo sekitar 1km, saya tempuh dengan berjalan kaki, melalui Jl. Dhoho –>  sampai di Hotel Bhismo. Kediri terkenal dengan Pecel Tumpang-nya. Nah, menjelang malam, para penjual Pecel Tumpang mulai menggelar tikar lesehan di sepanjang Jl. Dhoho sampai alun-alun.

Sebuah keluarga, meminta saya memotret mereka sedang melahap Pecel Tumpang langganan mereka.

.. Hi from Kediri ! ..

.. Hi from Kediri ! ..

Tarif Hotel Bhismo termasuk yang backpacker friendly, 60.000 include sarapan roti. Cek rule menginap di hotel untuk solo traveler, khususnya perempuan di sini.

Setelah unpack, mandi dan shalat, saya berjalan-jalan keluar menuju alun-alun. Sejauh mata memandang Alun-Alun Kediri adalah para penjual makanan dengan aneka menu. Dari Alun-Alun saya mencari ojeg yang bisa mengantar ke  Monumen Simpang Lima Gumul. Monumen Simpang Lima Gumul adalah icon kota Kediri. Bentuknya mirip Monumen L’arc De Triomphe di Paris. Monumen itu sekaligus mengukuhkan toleransi antar umat beragama di Kediri, yang dilukiskan dalam relief-relief di seluruh sudut Monumen.

Ada sebuah terowongan bawah tanah di Monumen, yang entah filosofinya apa, hehe. Tidak faham, kerena tidak ada tempat bertanya pada petugas di sekitar Monumen, hanya ada beberapa petugas keamanan yang sama tidak mengertinya dengan saya.

.. Monumen Simpang Lima Tugu Mulyo Kediri ..

.. Monumen Simpang Lima Tugu Mulyo Kediri ..

13-terowongan-simpang-lima-gumul-kediri

.. terowongan Simpang Lima Gumul ..

Untuk backpackers sebetulnya agak susah mengunjungi Monumen Simpang Lima Gumul di malam hari, kerena  sullit mencari bis yang melewati Monumen pada malam hari. Jika siang hari, seluruh bis dari Kediri menuju Pare melewati Simpang Lima Tugu Mulyo (Simpang Lima Gumul), dan bisa turun langsung di depannya. Terdapat pasar malam dan pasar tumpah di setiap akhir pekan di seberang Monumen ini, coba dieksplor jika ada waktu. Selain filosofi bangunannya, monumen ini tentu saja spot keren buat berfoto dan pusat tongkrongannya muda-mudi Kediri (meski kecil kemungkinan dapat bertemu petugas KAI bernama Anton disana. Teteup!)

Saya membayar 40ribu untuk ojeg pp (plus ditungguin selama eksplor Simpang Lima Gumul). Jaraknya memang lumayan jauh dari kota Kediri, sekitar 10km.

Pulangnya saya minta diantar ke Jl. Dhoho, karena ingin mencoba Pecel Tumpang Kediri. Semakin malam semakin ramai di sepanjang Jl. Dhoho, semarak dengan lesehan-lesehan Pecel Tumpang. Yang aneh dari Pecel Tumpang ini adalah sudah kenyang 1 porsi, plus teh hangat panas, dan rempeyek nambah 1 bungkus, cuma bayar 8.000, hehe. Dan betapa enaknya pecel Tumpang itu, bersama teh khas Kediri. Lalu kembali ke hotel Bhismo (berjalan kaki) dengan senang karena kenyang.

.. Pecel Tumpang Kediri, Jl. Dhoho ..

.. Pecel Tumpang Kediri, Jl. Dhoho ..

Tidur nyenyak di Hotel Bhismo sampai adzan Shubuh. Adzan Shubuh jelas terdengar sayup indah dari Mesjid Agung Kediri, sebelah kanan Alun-Alun. Menunaikan Shalat Shubuh disana, dan sempat ditawari menginap di masjid apabila mau (oleh petugas masjid), tapi siang nanti saya sudah mau pulang ke Bandung. Hehe

Abis dzikiran di masjid (backpacker syariah) cobain deh jogging di sekitar Alun-Alun Kediri, mumpung jalanan masih sepi. Saya selalu suka jogging di pagi hari di kota-kota yang sedang saya kunjungi. Sekalian hunting sarapan juga, yang akhirnya pilihan kembali jatuh ke Pecel Tumpang lagi (ketagihan, hehe). Kalo yang ini, lebih merasa bersalah lagi, karena udah kenyang plus teh panas cuma 6.000 (catat lagi, teh Putri Minang khas Kediri enak banget!).

.. Hotel Bhismo Kediri ..

.. Hotel Bhismo Kediri ..

.. spotted! ..

.. spotted! ..

.. Kediri Pagi ..

.. Kediri Pagi ..

.. Sarapan Pecel Tumpang Kediri (lagi) ..

.. Sarapan Pecel Tumpang Kediri (lagi) ..

Kembali ke hotel, mandi, packing, dandan, dan checkout. Jalan kaki lagi ke dekat masjid (Jl. Semeru) untuk cari angkot yang menuju ke arah Terminal Tamanan. Rencananya pagi ini mau mengunjungi Gereja dan Gua Maria Lourdes Puhsarang di Kecamatan Semen.

Untuk menuju ke Puhsarang, dari kota Kediri bisa naik angkot jurusan G dan E ke Terminal Tamanan (naiknya dari Jl. Semeru atau Jl. Bandar Ngalim dekat Mesjid Agung Kediri) sampai di Terminal Tamanan (waktu tempuh 15 menit, ongkos 4.000). Atau naik bis yang semuanya masuk ke Terminal Tamanan (ongkos paling 2.000). Dari Terminal Tamanan, berjalan kaki ke arah kanan menuju Pasar Semen (sekitar 300meter dari Terminal Tamanan). Dari Pasar Semen naik colt sayur tujuan Desa Selopanggung (warnanya merah), turun di Puhsarang (waktu tempuh 30 menit, biaya 5000).

.. #beauty ..

.. #beauty ..

Usahakan sampai ke Pasar Semen sebelum jam 9 pagi, agar mudah mencari colt sayurnya. Coltnya agak ngetem, tapi menurut saya worth it dengan serunya pengalaman yang bisa didapet karena naik colt sayur itu. Saya naik bersama ibu-ibu yang baru pulang berbelanja dari Pasar Semen. Mereka saling mengenal satu sama lain. Setelah bercakap dengan mereka, kami beberapa kali berfoto. Susah dilukiskan serunya pengalaman di atas colt itu. Saya dan ibu-ibu itu berdiri di bak colt itu.

.. Colt Sayur menuju Ke Puhsarang ..

.. Colt Sayur menuju Ke Puhsarang ..

.. di atas colt sayur ke Puhsarang ..

.. di atas colt sayur ke Puhsarang ..

Semalem ada orang yang saya temui dan mengatakan untuk jangan begitu saja menerima tawaran makanan dari orang asing di Kediri, nanti banyak meminta balasan katanya. Pagi itu, Pak supir colt itu berhenti sejenak di bawah pohon kersen, lalu dia berdiri di atas kap mobilnya, mengambil beberapa buah kersen buat kami para penumpang. Ibu Lastri dan Ibu-Ibu di atas bak colt itu menawarkan kepada saya kue-kue yang dibelinya di pasar. Sebagaimanapun ingat ucapan orang tadi malam itu, jika sudah sampai sedemikian, sampaikah hati menolak tangan mereka? Ada berkah dari setiap kue dan buah kersen itu, yang diberikan oleh tangan-tangan yang sepanjang hidupnya telah memikul bakul sayur itu, tangan yang seumur hidupnya telah memegang kemudi itu.

.. drivernya stopped by, dan memetik buah kersen untuk kami *cries ..

.. drivernya stopped by, dan memetik buah kersen untuk kami *cries ..

Dan ketika menuliskan ini dalam kereta perjalanan saya ke Solo-Sukoharjo, sungguh saya tak mampu menahan air mata. Saya rindu mereka, ibu-ibu di atas colt itu. Ibu-Ibu itu, dan kebaikan supir itu membelokkan mobilnya beberapa kilometer agar dapat mengantar saya sampai di depan Situs Pohsarang; orang-orang yang membuat saya percaya akan humanity. Dan saya bahkan tak berani menatap mata mereka ketika turun dari atas colt itu, karena apa? Karena mereka memeluk saya, menawarkan saya untuk mengunjungi desa mereka dan menginap di desa mereka apabila saya perlu tempat menginap. Bagaimana hati bisa seindah itu? Tak ada gurat kecurigaan terhadap orang asing sama sekali terpancar di mata mereka.

.. sunyi ini merdu seketika..

Oh ya, mereka meminta saya mengirimkan gambar kami ke alamat mereka, tertunda-tunda terus hingga hari ini masih belum terlaksana.

***

Gua Maria Lourdes Puhsarang adalah Gua Maria yang tertua di Indonesia. Berada di ketinggian lebih dari 1600mdpl. Setelah Gua Maria, kita dapat menelusuri patung-patung yang menggambarkan perjalanan Yesus lahir hingga disalib. Juga tempat berkumpulnya jemaat, dan Gereja Puhsarang. Gua Maria Lourdes Puhsarang ini berarti Gua Maria kedua yang saya kunjungi, yang pertama Gua Maria Fatima Sawer Rahmat di kaki Gunung Ciremai.

.. Gua Maria Pohsarang Kediri ..

.. Gua Maria Pohsarang Kediri ..

.. Surat Maryam ..

.. Surat Maryam ..

.. beautiful hands, reading beautiful book ..

.. beautiful hands, reading beautiful book ..

.. Gua Maria Lourdes dan Menapaki Jalan Salib dan Bukit Golgota ..

.. Gua Maria Lourdes dan Menapaki Jalan Salib dan Bukit Golgota ..

20141019_092207

Oktober adalah bulan Bunda Maria. Tak heran Gua Maria Lourdes Puhsarang dipenuhi oleh peziarah. Sekali lagi, kesyahduan yang didapat ketika mendatangi situs peribadatan manusia kepada Tuhannya. Ketika saya mengaji surat Maryam di sana, beberapa peziarah menghampiri dan mengajak bersalaman. Kami saling meminta doa.

(Dan sempat digodain oleh anak-anak usia dua puluh tahun, yang mengira saya sebaya mereka).

.. diajakin selfie! ..

.. diajakin selfie! ..

Sebelum pintu keluar terdapat tempat berkumpul open space yang di atasnya genting transparan, juga terdapat pekuburan, dan Bangunan Gereja Poh Sarang. Di pintu keluar terdapat pusat oleh-oleh dan cinderamata.

.. aula dan Gereja Poh Sarang ..

.. aula dan Gereja Poh Sarang ..

20141019_094642-tile

Di Puhsarang dan di area Gereja yang menyediakan penginapan bagi yang hendak menginap. Harganya bervariatif mulai dari 200.000/malam. Saya keluar dari area itu dan berjalan sekitar 300 meter sampai akhirnya bertemu dengan colt  sayur lain yang akan membawa saya kembali ke Kota Kediri.  Kali ini hanya saya dengan pak Supir di dalam colt itu. Saya duduk di depan. Berikut penampakan Pak Supir;

20141019_100826

Usahakan selesai dari Puhsarang tidak lebih dari jam 11 siang, agar mudah mencari angkutan colt lagi, jika tidak; pilihannya ojeg.

Turun di Pasar Semen dan menyempatkan membeli oleh-oleh untuk kakak saya berupa rokok khas Kediri. Kakak saya; Ali, suka sekali dengan rokok klasik khas Jawa Timur. Sengaja membelinya di pasar agar mendapat rekomendasi dari penjualnya yang pasti tau rokok paling klasik di Kediri. Ini rokok bahkan katanya idola para orang tua zaman dulu di Kediri. Wah, menarik ya.. Kakak saya pasti senang.

Dari Pasar Semen berjalan kaki lagi menuju Terminal Tamanan. Ketika bertanya pada sebuah kantor tour and travel, saya bertemu dengan seorang warga Kediri yang menawarkan dirinya untuk mengantar saya sampai ke Stasiun Kediri. Karena keliatan orang baik-baik, akhirnya saya setujui tawarannya, dan kami berboncengan menuju Kediri. Ternyata, mas-mas itu barusaja memesan tiket bus untuk ke Jakarta, guna memperpanjang visanya untuk keperluan perjalanan ke Amerika. Ceritanya, 2 tahun terakhir sejak kelulusan SMAnya, si mas-nya ini langsung bekerja di yacht di Amerika. Seru ya! Dia juga cerita tentang kehidupan selama di yacht dan selama di Amerika. Ya pantas saja dia bisa helpful banget, kan sama-sama suka merantau. Hehe. Saya di antar sampai depan Mesjid Agung Kediri lagi, karena hendak shalat Dzuhur-Ashar di sana.

.. Mesjid Agung Kediri ..

.. Mesjid Agung Kediri ..

Masih ada 2 jam sebelum keberangkatan kereta dari Stasiun Kediri. Setelah shalat, menikmati masjid Agung Kediri yang syahdu karena anginnya sepoi-sepoi, agkhirnya memanjakan lidah di Sate Kang Ipin di sebelah kiri mesjid. Jangan-jangan penjualnya emang orang Sunda, tapi jadi lupa nanya karena ini sate enak banget! Apa yang membuat enak? Adalah bumbunya yang soft banget, ngga terasa butiran kacangnya, malah terlihat seperti mayonnaise. Tau kenapa? Menurut penjualnya, biji kacangnya itu dibuang sebelum kacangnya diulek, karena biji kacangnya itu yang katanya paling susah halus. Dan tau apa lagi yang membuat enak? Satenya tanpa lemak. Satu tusuknya seharga Rp 3.000, nasi seharga 3.000 (banyak banget), dan teh panas tawar 3.000.

.. Sate Kambing Kang Ipin ..

.. Sate Kambing Kang Ipin ..

.. kedainya minta dipromosiin ..

.. kedainya minta dipromosiin ..

Selama di Kediri-Blitar saya selalu memesan teh panas tawar sebagai pelengkap makan. Asli, teh di Kediri-Blitar enak banget, dan rasanya sama. Sempat waktu di Blitar saya mulai tanya, gerangan merk teh apakah yang mereka sajikan kepada saya. Dan mereka bilang Teh Cap Putri Minang. Ketika beberapa kali saya minum teh di Kediri, saya juga tanya kepada para penjualnya. Jawabannya kompak; Teh Cap Putri Minang. Karena sudah kadung jatuh cinta dengan rasa tehnya, saya akhirnya melipir ke salah sebuah Toko Klontong di Jl. Dhoho untuk membeli Teh Cap Putri Minang seharga 10.000/pak.

Kemudian saya menyusuri jalan ke arah Stasiun Kediri, dan mampir sejenak di Jl. Monginsidi untuk membeli oleh-oleh khas Kota Kediri antara lain; tahu takwa (bisa dibungkus atau dimakan di tempat) kerupuk tahu, dan tak lupa bumbu petis, hehe.

.. Oleh-oleh Kediri ..

.. Oleh-oleh Kediri ..

Rokok Gudang Garam Klasik, asli Kediri dan cuma ada di Kediri & Teh Cap Putri MInang ..

Rokok Gudang Garam Klasik, asli Kediri dan cuma ada di Kediri & Teh Cap Putri MInang ..

Saya tak segera ke stasiun, karena masih memiliki waktu senggang, dan saya menyusuri Jl. Monginsidi dan tiba-tiba sampai di sebuah Vihara yang aduhai indahnya. Namanya Klenteng Tjoe Hwie Kiong yang dibangun di tepi aliran Sungai Brantas. Dan dipasang Patung Dewi Kwan Im yang tinggi banget (dan cantik banget), sedang memandang ke arah Sungai Brantas. Cobain naik deh ke dekat Patung Dewi Kwan Im, and see the incredible scenery! Sempatkan juga melihat-lihat ke dalam Vihara, yang ditunggui oleh penjaga yang demikian ramahnya.

IMG_8827

.. Dewi Kwan Im di tepi Brantas ..

.. Dewi Kwan Im di tepi Brantas ..

Klenteng Tjoe Hwie Kiong

Klenteng Tjoe Hwie Kiong

IMG_8871-tile

Selesai Vihara, saya menuju ke Jl. Yos Sudarso lagi, offering ziarah lagi kepada Syekh Awliya Wasil (sebagai ziarah penutup dari rangkaian perjalanan Kediri-Blitar saya). Dan kali ini bahkan sempat shalat di mesjidnya yang bergaya Pendopo Jawa Klasik. Mesjid tersebut diberi nama Mesjid Aulia Setono Gedong. Saya selalu suka dengan mesjid yang open space, tanpa dinding. Di sekitar masjid juga terdapat situs peninggalan Kerajaan Kediri (batu-batu candi dengan relief, dan bangunan joglo). Dari mesjid, bisa langsung melalui akses Gg. Setono Gedong sekitar 20m untuk mencapai ke Jl. Dhoho tepat di depan Stasiun Kediri. Jangan lupa beli bungkus Pecel Tumpang lagi buat di perjalanan kereta nanti.  Hehe.

.. dengan berat hati, meninggalkan Kediri ..

Dalam perjalanan kereta menuju Bandung, saya mengingat wajah penjual Ice Drop itu, wajah Ibu Yuli dengan motornya di jembatan Brantas, wajah-wajah para peziarah di Bung Karno, polsuska di Stasiun Kediri bertuliskan Anton di di nametagnya (hehe!), ibu-ibu dan Pak Supir di colt sayur menuju Poh Sarang itu, kedua tangan kasar peziarah Gua Maria yang memegang lembut  kitab Jawi di tangannya, sepoy angin di Mesjid Kediri dan di Mesjid Pendopo Syeikh Awiliya.

.. berapa lama beautiful creatures itu akan terpatri indah dalam sanubari, sebelum akhirnya hilang karena di otak penuh memori? ..

IMG_8914

.. see you, Kediri ..

– m –

Advertisements

35 thoughts on “Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Syahdu di Kediri

  1. Hello dan salam kenal mbak Intan (nama belakang kita sama ya :p),
    saya suka deh sama postingan perjalanan kediri-blitar ini. Karena seperti yang mbak bilang, kediri dan blitar memang bukanlah kota favorit untuk dikunjungi, juga cara mbak dalam bercerita. Saya sendiri kemarin baru explore semarang (pssst mampir ya ke lapak saya http://sthaap.blogspot.com/2015/05/semarang-trip-16-19-mei-2015.html ), dan memutuskan kayanya asik ya kalo explore-explore kota kota di Pulau Jawa. Maybe next time saya bakal mengunjungi Kediri dan Blitar juga (thanks for reference). Saya juga baru sadar, kayanya saya kalo travelling ngebut yaa? terlalu berambisi mengunjungi setiap spot wisata sehingga lupa untuk blend with local. Beda dengan mba Intan yang kayanya slow travelling, enjoy every moment dan bener-bener bikin saya sirik karena bisa membaur dengan penduduk asli sana.
    Anyway, salam dari sesama cewek pejalan 😀

    Regards,
    Ayu

    • Hallo Mba Rahayu! Terima kasiiih atas kunjungannya ke travelling blog kami yang baru seumur jagung ini. Blog ini so far dikelola oleh saya (Milta) dan rekan kerja saya (Mrs. Intan).

      Kebetulan posting tentang Kediri-Blitar itu kontributornya Milta, karena Mrs. Intan sedang berhalangan ikut trip Kediri-Blitar.

      Beragam kesan, yang bahkan sulit untuk dilukiskan tentang solo travelling to Kediri-Blitar, banyak sekali membuka pandangan tentang humanity, social, religion, dsb Mba.. Semoga Mba Rahayu juga dapat merasakannya suatu saat.. 🙂

      Pulau Jawa akan selalu jadi favorit tujuan wisata saya pribadi, selain murah dan accesible, culturenya indah sekali; satu pulau aja bisa ratusan bahasa dan dialek.. Meskipun begitu, banyak banget tempat-tempat lain di wishlist! 😀

      Semoga kita dapat menambah nilai dari setiap perjalanan kita Mba Rahayu! Happy travelling, stay safe! 🙂

      kapan-kapan siapa tau kita bisa travelling bareng! heheh

      love and salaam,

      – milta –

    • Salam kenal Mba Rahayu….betuuul nama belakang kita sama & hobby kita ternyata sama yaa…..untuk perjalanan Kediri – Blitar ini, saya ga ikut karena berhalangan….jadi aja Milta ber solo backpacker deh, yang kontributor nya juga Neng Milta langsung.

      Makasih yaa atas kunjungannya, kita kunjungi juga http://sthaap.blogspot.com/2015/05/semarang-trip-16-19-mei-2015.html )

      Urusan Enjoy the Trip….Milta lho jago nya saya mah ngawal aja supaya Milta ga ada yang Nyolek 🙂

      Ayooo…kapan-kapan kita gabung yaaa……Salam Traveler ….:)

      • Mba Milta : Oh God, haha maap banget loh Mba Milta (dan salam kenal juga 😀 ), saya liat contributornya nama Mba Intan di paling atas, jadi dengan sotoynya…. (padahal di postingan pertama jelas jelas ini Mba Milta yang nulis)

        “Oh ya, udah tahu kaan.. kalo akhir-akhir ini saya punya partner backpacking. Rekan kerja, namanya Mrs. Intan. Saya mengajaknya bergabung menjadi kontributor untuk travelling blog saya yaitu backpackercantik.wordpress.com.”

        Saya setuju deh, pulau Jawa emang destinasi paling accessible, murah dan punya sejuta hidden gem di dalamnya. Sayang banyak kota kecil seperti Kediri – Blitar ini kurang informasi wisata dan transportasi karena, yaitu, jarang yang explore dan update di blog tentang kota-kota ini.

        I adore you sebagai solo traveller, saya sendiri belum benar-benar siap untuk jalan sendiran. Walaupun saya cinta banget research, planning dan bikin itinerary untuk travelling, rasanya belum ada hasrat aja untuk jadi solo traveller. Keep posting ya mbak-mbak.

        Mba Intan : Wahahaha, iyaa maapkan kesalahan daku yaaah. Makasih juga udah mau mampir ke lapak saya 😀 saya juga suka nyambi jadi bodyguard kok kalo lagi jalan, Insya Allah aman hehe.

        Boleh ya kalo ada waktu dan kesempatan jalan-jalan barenga. Kalian dari Bandung ya? saya juga dari bandung. Walaupun bandung nya bandung barat a.k.a Padalarang.

        Salam bandung dari hati #halah

      • Ya ampun, udah lama ga ngecek blog baru kebaca sekarang ini komen. duh.
        Gimana jadinya stone garden? asik ga? padahal itu deket rumah saya loh, dulu saya sering diajak climbing di tebing2 sekitar goa pawon nya. ah mungkin emang ditakdirkan meet up di lain kali…

    • Halo Lila.. saya travellingnya akhir Oktober 2014, tapi awal Mei lalu stopped by di Kediri juga sebelum trip saya ke Jombang-Mojokerto.. Gimana, ada yang bisa dibantu ? 🙂

      • Tarif apa kak? 😀
        saya waktu itu start dari Bandung tarif kereta Kahuripan AC pp cuma 100ribu, tapi sekarang jadi 180rb pp, kalau hotel Bhismo mesti hubungi hotelnya untuk update harga, tapi Bhismo itu udah yang paling murah deh menurut saya :), kalo biaya angkot naiknya gak sampai 2 kali lipat ko 🙂

  2. hay kakak.. aku mau cerita nih tntang travelling singkat di kediri.. 🙂
    pertama,, seminggu sebelum berangkat aku booking tiket, n ga nyangka banget, perjalanan ke kediri 4 jam .. berhubung libur cuma sehari, aku ok in aja.. klo d itung di kediri cuma 4 jam.. fix berangkat.
    selama seminggu, aku nyusun jadwal, bakal ngapain aja disana, nyusun anggaran transport, oleh” , dengan panduan blog kakak ini, aku nyusun jadwal .. udah rapiii banget.. n temen” ku juga setuju.
    jengg jenggg… kita berangkat, sampai di kediri jam 11.35 pas puncaknya panas .. kita lgsg nanya ke arah masjid agung kediri, dengan jarak kurang lebih 1km, kita putuskan jalan kaki … ohhh nooo.. ternyata jauh juga kak 😦 .. saya saranin aja ya, pkek becak klo mau ke masjid agung kediri dr stasiun .. 😀
    sehabis kita sholat di masjid, lgsg tujuan utama ke SLG, nahhh.. kita tanya sana sini,, gak ada angkot kak kesananya kalo hari minggu cz sekolah n pabrik pada tutup .. hehhe. akhirnya kita ketemu sama tukang becak, dn nawarin di antar ke SLG pakek becak motor dgn tarif 25/orang pulang pergi .. oke deh.. berangkat ke SLG , ternyata juga ga jauh” amat 😮 ,, jdi, perlu di nego lagi lah klo ada yg mau ke SLG .. hehhee.. saya ga nego cz saya ga tau apa apa :3 😀 .. sampai di SLG , kita muter” aja, ambil foto .. cuma setengah jam di SLG , cz kita ngejar waktu juga..
    kembali ke kediri lagi, minta di turunin depan klenteng Tjoe Hwie Kiong .. foto” cuma di depan nya aja, cz hari minggu lumayan rame .. setelah itu,, kita nyusuri sepanjang jalan dan beli oleh” , niat nya mau ke masjid syekh aulia, tpi gak ketemu.. kita jalannn teruss.. dn saat tanya ke tukang parkir buat ke arah stasiun , bpk itu bilang “kalo mbk mau putar balik udah kejauhan, klo mbk lurus juga jauh” .. haaa??? dasar gak tau apa”, kita putuskan buat jalan teruss, ga puter balik. sumpahh,,, jauh, panas, angin gede .. hmmm.. pengalaman lahh .. heehhee.. akhirnya setengah jam lebih kita jalan, sampai juga d stasiun jam 14.54 , kereta berangkat jam 15.35 .. kita sholat di masjid dekat stasiun.. setelah sholat cusss go home,, alhamdulilah, gak kurang satupun. 🙂
    kesan saya, di kediri kota nya tenang, tapi buat ketertiban lalin masih kurang banget.. kurang nya angkot an, jadi saran saya, kesananya selain hari minggu aja.. biar angkotnya gampang.. sekian n trima kasih kak milta… 🙂 :Dd

    • waaah senengnya bisa mendengar kesan perjalanan kamu, terima kasih sekali loh udah sharing disini 😀
      kalau kamu suka nulis, tulis juga dong di blog, pasti bermanfaat banget info perjalanan dari kamu ini 🙂

      Kediri menyenangkan yaa.. saya aja udah kangen Kediri lagi! 😮

  3. Wah menyenangkan sekali ya touring ke Kedirinya, saya pecinta travelling juga namun lebih ke heritage, nature juga sih…
    dan melihat reportase mbak ke tempat ibadah tadi sungguh jadi ingin kesana

    kapan-kapan kalau mbak lagi ke Kota Malang, saya siap menunjukkan tempat-tempat eksotis deh 🙂

    salam kenal ya!

    • Halo Mba Sindy!

      Terima kasih atas kunjungannya ya..

      Kediri memang menyenangkan, dan saya pun suka heritage, nature, local culture.. dan Kediri banyak menyimpan itu semua, meski saya tak cukup waktu mengeksplor seluruhnya. maybe next time, with you?! (:

      Wah, Malang selalu menarik mba.. akan kutagih janjimu kapan-kapan ya.. akan menjadi perjalanan panjang di Malang!

      salam kenal Mba Sindy, semoga Allah merangkai waktu untuk kita bertemu! 🙂

      • Iya, saya sering ke kediri tapi untuk sekadar urusan komunitas hehe. Wah boleh tuh… kapan2 kita explore kediri 🙂
        Yupp… I’ll be ready if you come to Malang, dan saat ini aku lagi jadi front man sebuah kegiatan jalan kaki menyusuri kota Malang, wisata urban heritage sih. bangunan kuno, monumen, bioskop kuno, daerah2 pecinan dll. selain itu juga ada tempat2 secret place di malang kayak air terjun, hutan pinus, yg jarang dikunjungi orang. aku juga sll menjadwalkan tiap tahun ke ranu kumbolo, just stay for a night to enjoy milkyway and universe hehehe
        Siiaaapp, semoga semesta melakukan tugasnya dengan baik ya Mbak 🙂
        ada line/bbm gak mbak? barangkali nanti kalau mau menjadwalkan wisata 🙂

  4. Wah Mba Sindy, kece sekali Mba Sindy jadi frontman kegiatan jalan kaki menyusuri heritage Malang. Di Bandung pun ada Mba kegiatan semacam, namanya Komunitas Aleut, tapi malah belum pernah ikut, padahal seru dan positif banget katanya!

    aaah, saya suka pinus mba! ajak kesana jika saya ke Malang lagi.. (padahal kampus kelas karyawan saya di Malang juga loh Mba, tapi ga pernah sempat jalan-jalan..)

    Kalau Mba Sindy ke Bandung, mohon jangan sungkan untuk mengontak saya ya Mba.. ini bbm saya : 5C851356

    heartfelt prayer for your days Mba Sindy! 🙂

  5. Permisi Mbak, izin menggunakan gambar Gua Maria Pohsarang ya Mbak. Akan ditulis credit photo dari blogger ini. Terima kasih Mbak.

  6. Salam kenal Mbak Milta, seru sekali perjalanan ke Kota Kedirinya terimakasih untuk review gua marianya, sekedar info saja kalau-kalau mau berkunjung lagi ke Gua Maria Pohsarang coba bertepatan dengan bulan maria atau bulan rosario, pas bulan mei dan oktober dan dipaskan dengan malam jumat legi, nanti Mbak Milta akan melihat prosesi yang dihadiri oleh ribuan orang dan lagu-lagu yang dibawakan dalam misa akan dilantunkan dengan alat musik khas dari daerah yang mendapatkan tugas untuk paduan suara disana. Cerita yang sangat menarik, salam kenal dari kami berduakelilingindonesia.com mudah-mudahan dilain waktu kita bisa bertemu mbak dan bisa keliling indonesia bareng. Terimakasih, sukses selalu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s